Islam Web

  1. Fatwa
  2. MAKANAN, MINUMAN, PAKAIAN DAN PERHIASAN
  3. Pakaian
  4. Pakaian Wanita
Cari Fatwa

Bagaimana Menyikapi Saudara Perempuan yang Tidak Menutup Aurat

Pertanyaan

Saya mempunyai beberapa saudara perempuan yang tidak menutup auratnya. Berkali-kali saya telah berusaha meyakinkan mereka supaya mau memakai hijab, tetapi saya belum mendapat jawaban yang layak. Bahkan saya sudah menjelaskan kepada mereka ayat-ayat Al-Quran, dan saya terkejut karena mereka ternyata lebih banyak hafal Al-Quran daripada saya. Saya membicarakan hal ini kepada ibu saya, dan beliau berkata dengan lemah lembut: "Engkau jangan bersuara keras dan jangan pula mengancam mereka." Ayah saya juga tidak setuju jika saya mewajibkan kepada mereka menggunakan hijab. Percayalah, saya merasa sangat malu ketika mereka keluar rumah. Apa yang harus saya lakukan? Apakah saya harus membunuh mereka? Saya khawatir menjadi seorang dayyus (yang tidak memiliki rasa cemburu dalam menjaga keluarganya), sehingga Allah—Subhanahu wata`ala—tidak mau memandang saya dan tidak mau membersihkan saya pada hari Kiamat kelak. Saya mohon nasihat dan solusinya?

Jawaban

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Ketahuilah, bahwa setiap kita akan ditanya tentang segala yang menjadi tanggung jawabnya, karena Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang siapa yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan ditanya tentang keluarga yang dipimpinnya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam rumah suaminya, dan ia akan ditanya tentang siapa yang dipimpinnya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Allah juga berfirman (yang artinya): "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." [QS. At-Tahrim: 6]

Ayah dan ibu Anda harus menyadari tanggung jawab ini, serta merasa takut kepada Allah akan tanggung jawab mereka terhadap keluarga dan putra-putri mereka. Sebagaimana mereka antusias memberi manfaat bagi putra-putri mereka di dunia, demikian pula semestinya mereka antusias menjaga keselamatan putra-putri mereka dari api Neraka pada hari Kiamat kelak.

Islam telah mengharamkan kaum perempuan menampakkan aurat dan berbaur dengan kaum laki-laki yang bukan mahram. Bahkan Islam juga mengharamkan seorang perempuan keluar rumah dengan memakai wangi-wangian, serta menggambarkan perempuan yang melakukannya dengan gambaran yang sangat buruk.

Tabarruj (pamer aurat) dan zina adalah dua sekawan yang biasanya tidak terpisah. Karena itu, bagaimana mungkin seorang muslim merelakan istri atau salah seorang mahramnya menampilkan aurat di hadapan orang lain yang menikmati kehormatannya? Padahal dengan demikian, tanpa ia sadari, ia telah menyembelih sifat `iffah (menjaga kesucian) mahramnya, menyia-nyiakan kehormatannya, dan menjadikannya sebagai mangsa bagi setiap mulut yang ingin mengunyahnya dan setiap mata yang ingin menikmatinya. Bahkan perilaku seperti itu sangat mungkin akan mendatangkan akibat buruk yang tidak diinginkan, sehingga tidak berguna lagi penyesalan ketika itu.

Bagaimana mungkin rasa cemburu—(tidak suka jika kehormatan keluarga dinodai)—ini bisa hilang terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita? Padahal rasa cemburu seperti ini merupakan salah satu esensi akhlak dan iman. Sebuah hadits diriwayatkan dari Abu Hurairah— may  Allaah  be  pleased  with  them, bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, "Sesungguhnya Allah itu merasa cemburu dan orang mukmin itu merasa cemburu. Sesungguhnya cemburu Allah itu adalah pada seorang muslim yang melakukan hal-hal yang Allah haramkan atasnya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Rasa cemburu yang terpuji ini adalah cemburu yang didasarkan pada alasan yang jelas, seperti alasan yang disebutkan dalam pertanyaan di atas.

Kebalikan sifat cemburu ini adalah dayyuts, yaitu orang yang tidak peduli terhadap keburukan apa pun yang terjadi di dalam keluarganya, atau tidak cemburu melihat mahramnya berkumpul dengan laki-laki non mahram. Sebuah hadits diriwayatkan dari Abdullah ibnu Umar  may  Allaah  be  pleased  with  them, bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, "Tiga orang yang tidak akan dipandang oleh Allah pada hari Kiamat: anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, perempuan yang bertingkah seperti laki-laki, dan orang yang dayyûts." [HR. Ahmad dan An-Nasa'i]

Bahkan orang-orang Jahiliah sebelum Islam saja memiliki rasa cemburu yang sangat kental dalam menjaga keluarganya. Tidak jarang terjadi peperangan antar kabilah lantaran kehormatan seorang perempuan. Perang Fijâr di tengah bangsa Arab pra Islam tidaklah terjadi melainkan lantaran seorang perempuan yang diganggu oleh beberapa pemuda di pasar `Ukâzh; mereka memaksa perempuan itu menyingkap cadarnya. Jika manusia Jahiliah saja demikian, bagaimana seharusnya dengan orang Islam?

Jadi, ayah, ibu, dan seluruh keluarga Anda harus mengetahui bahwa menutup aurat bagi kaum perempuan adalah faktor yang paling membantu dalam menjaga kesucian mereka, dan bahwa komitmen menjalankan ajaran Islam adalah penutup yang aman bagi ancaman fitnah, kenistaan, dan perzinaan.

Kita tidak boleh terpedaya oleh tradisi tabarruj masyarakat-masyarakat kafir. Mereka itu telah dikuasai oleh sifat dayyûts, kenistaan, dan kekotoran akhlak yang bahkan sebagian binatang saja tidak sudi melakukannya. Barang siapa menyerupakan dirinya dengan suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka.

Maka ayah Anda, sebagai orang pertama yang bertanggung jawab di dalam keluarga, harus mewajibkan putri-putrinya dan istrinya untuk memakai hijab yang sesuai Syariat, serta menjaga kesopanan ketika keluar rumah, demi mengagungkan ajaran Allah, menjaga kehormatannya, menjaga keturunannya, serta menjaga masyarakat dari perzinaan dan berbagai faktor penunjangnya.

Adapun Anda, tidaklah tergolong ke dalam kategori manusia dayyûts ini, karena Anda tidak suka terhadap apa yang Anda saksikan itu dan tidak membenarkannya. Bahkan kami berdoa semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Anda atas rasa cemburu dan antusiasme Anda dalam menjaga mahram Anda agar komitmen menjalankan ajaran Islam.

Tetapi bagaimanapun juga, Anda tidak boleh membunuh mereka seperti yang Anda katakan, karena kemungkaran tidak boleh dicegah dengan kemungkaran yang lebih besar. Pembunuhan adalah sebuah perkara besar. Cukuplah untuk menjelaskannya, kita membaca firman Allah (yang artinya): "Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya adalah Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, mengutuknya, serta menyediakan azab yang besar baginya." [QS. An-Nisa': 93].

Justru Anda harus bersikap lemah-lembut dan penuh kasih dalam menasihati kedua orangtua dan saudara-saudara perempuan Anda. Anda harus berbuat baik kepada mereka dan melakukan cara-cara dakwah yang menarik hati mereka.

Anda bisa membelikan kaset-kaset dakwah, atau kitab-kitab dan selebaran-selebaran islami, terutama yang membahas tentang bahaya tabarruj dan hukum-hukum hijab. Usahakan semua itu ada di dalam rumah Anda dan dapat dibaca oleh semua anggota keluarga. Dan tentu saja, di samping itu semua, Anda dituntut untuk selalu berdoa agar mereka dianugerahi hidayah dan petunjuk ke jalan yang lurus.

Wallahu a`lam.

Fatwa Terkait