Islam Web

  1. Fatwa
  2. HADITS
  3. Penjelasan Beberapa Hadits
Cari Fatwa

Derajat dan Makna Hadits "Kemudian Muncullah Khilafah yang Sesuai dengan Manhaj (Jalan) Nabi."

Pertanyaan

Assalamu`alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
Dalam Musnad Imam Ahmad, tepatnya di awal-awal Bab "Musnad Orang-orang Kufah" terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Nu`man ibnu Basyir tentang pembagian zaman yang disebutkan oleh Rasulullah—Shallallahu `alaihi wasallam, yaitu: Zaman Kenabian (Nubuwwah), kemudian Zaman Kekhilafahan yang Lurus (Khilafah Rasyidah), Zaman Kerajaan yang Menggigit (Mulkan `Adhan), lalu Kerajaan Sombong (Mulkan Jabriyyan), kemudian kembali lagi Zaman Kekhilafahan yang Lurus. Setelah itu, Rasulullah—Shallallâhu `alaihi wasallam—diam.
Bagaimanakah status ke-shahih-an berikut maksud hadits ini? Apakah semua pembagian zaman yang disampaikan oleh Nabi ini sudah terwujud dengan sempurna ataukah kita baru berada di salah satunya? Kalau benar demikian, di bagian yang mana kita sekarang? Apa makna `adh dan jabriyyan? Selanjutnya, apa maksud dari kata-kata perawi "Lalu beliau diam"? Demikian pertanyaan saya. Jazakumullahu khairan.

Jawaban

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Nu`man ibnu Basyir  may  Allaah  be  pleased  with  them, ia berkata, "Pada suatu ketika, kami sedang duduk di Mesjid. Tiba-tiba, Abu Tsa`labah Al-Khusyani datang seraya berkata, 'Wahai Basyir, apakah engkau hafal sebuah hadits dari Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention tentang para pemimpin?' Hudzaifah berkata, 'Aku hafal khutbah beliau.' Mendengar itu, Abu Tsa`labah pun segera duduk, dan Hudzaifah berkata, 'Rasululllah  may  Allaah  exalt  his  mention pernah bersabda, 'Masa kenabian akan ada di tengah kalian selama waktu yang dikehendaki Allah, kemudian Allah akan mengangkatnya ketika Dia ingin mengangkatnya. Kemudian datanglah zaman kekhalifahan yang berjalan sesuai dengan jalan kenabian dan akan terjadi selama waktu yang Allah kehendaki. Lalu Allah mengangkatnya ketika Dia ingin mengangkatnya. Kemudian datanglah zaman kerajaan yang menggigit (`adh/`adhudh), dan akan terjadi selama beberapa waktu yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya ketika Dia ingin mengangkatnya. Kemudian datanglah masa kerajaan sombong/diktator (jabriyyan), dan akan berlaku selama yang Allah kehendaki. Kemudian Allah akan mengangkatnya ketika Dia ingin mengangkatnya. Kemudian datanglah masa kekhalifahan yang sesuai dengan manhaj (jalan) kenabian.' Setelah itu, Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention diam."

Habib berkata, "Ketika Umar ibnu Abdul Aziz menjadi khalifah, Yazid ibnu Nu`man ibnu Basyir menjadi salah satu teman dekatnya. Aku lalu menuliskan hadits ini kepada Yazid, untuk mengingatkannya. Aku berkata di dalamnya, 'Aku berharap Amirul Mukminin—Umar—adalah khalifah yang ada setelah kerajaan yang `adh/`adhudh dan jabriyah itu. Ia membawa surat saya itu kepada Umar Ibnu Abdul Aziz. Umar pun senang dan takjub karenanya."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thayalisi, Al-Baihaqi dalam kitab Minhajun Nubuwwah, dan Imam Ath-Thabari. Hadits ini di-shahih-kan oleh Al-Albâni dan dihukum hasan oleh Al-Arna'uth.

Hadits ini dikuatkan oleh riwayat dari shahabat lain, yaitu Safinah  may  Allaah  be  pleased  with  them, ia berkata bahwa Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, "Kekhalifahan ada di tengah umatku selama tiga puluh tahun, dan setelah itu masa kerajaan." Kemudian Safinah berkata kepada perawi hadits ini, "Hitunglah kekhalifahan Abu Bakar, kemudian kekhalifahan Umar dan kekhalifahan Utsman." Ia berkata lagi, "Hitunglah (pula) kekhalifahan Ali." Kemudian ia berkata, "Kita mendapatkan semuanya berjumlah tiga puluh tahun." [HR. Ahmad. Menurut Al-Arna'uth: hasan]

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Hudzaifah  may  Allaah  be  pleased  with  them, bahwa ia berkata, "Kenabian telah berakhir, akan datang masa kekhalifahan yang sesuai dengan manhaj kenabian." [Menurut Al-Arna'uth: shahih]

Makna hadits ini adalah: Kekhalifahan yang sesuai dengan manhaj kenabian adalah kekhalifahan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, seperti yang terihat dari teks riwayat hadits. Sedangkan maksud kerajaan yang menggigit (`adh/`adhudh) adalah kerajaan yang semena-mena dan zalim. Ibnul Atsir mengatakan, "'Kemudian datanglah kerajaan yang `adhudh.' Maksudnya, kerajaan yang rakyatnya mengalami kezaliman dan tindakan semena-mena."

Sedangkan maksud "Kerajaan jabriyyan" adalah kerajaan yang menindas dan diktator. Ibnul Atsir mengatakan, "'Kemudian datanglah kerajaan jabarût.' Maksudnya, tiran dan menindas."

Tentang apakah semua pembagian zaman ini sudah terjadi, di atas sudah kita jelaskan bahwa di antara ulama salaf ada yang menyatakan bahwa semua pembagian zaman ini sudah terwujud, dan kekhalifahan yang terakhir yang berjalan sesuai dengan jalan kenabian adalah kekhalifahan Umar ibnu Abdul Aziz. Akan tetapi, terkait hal ini, Al-Albani berkata dalam kitab As-Silsilah Ash-Shahihah, "Adalah sesuatu yang jauh dari kebenaran, menurut saya, menjadikan hadits ini (berakhir) pada zaman Umar ibnu Abdul Aziz. Karena jarak kekhalifahannya masih dekat dengan kekhalifahan yang lurus (khilafah rasyidah). Selain itu, dua jenis kerajaan juga belum terwujud ketika itu, yaitu kerajaan `adh/`adhud dan kerajaan jabriyyan.

Wallahu a`lam."

Namun yang lebih kuat wallahu a`lam, saat ini kita berada di zaman kerajaan diktator (jabriyyan). Hal itu dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Hashil Ash-Shidqi, bahwa Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda, "Setelahku, akan ada para khalifah. Setelah khalifah, akan ada para gubernur (amir). Setelah itu, akan ada raja-raja. Setelah raja-raja, akan ada para diktator (tiran). Kemudian lahirlah seorang laki-laki dari keturunanku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana ia diisi dengan kezaliman. Kemudian ditunjuklah sebagai pemimpin setelahnya seorang dari Qahthan. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, ia tidaklah berada di bawahnya dalam menerapkan keadilan."

Dalam hadits ini dijelaskan bahwa Al-Mahdi akan turun setelah kekuasaan para diktator. Kekhalifahannya itulah yang merupakan kekhalifahan kedua yang berjalan sesuai dengan manhaj kenabian tersebut. Akan tetapi, hadits ini dihukum dha`if oleh Al-Albani.

Adapun pertanyaan Saudara tentang apa yang dituju dari kata-kata perawi "Kemudian beliau diam", secara zahir ini menunjukkan bahwa hadits tersebut telah selesai.

Wallahu a`lam.

Fatwa Terkait

Cari Fatwa

Anda dapat mencari fatwa melalui banyak pilihan

Fatwa - QR Code

Fatwa