Islam Web

Artikel

  1. Home
  2. Artikel
  3. POKOK BAHASAN
  4. Islam
  5. Shalat

Kekhusyukan Luar Biasa

Kekhusyukan Luar Biasa

Ketika Abdullah Ibnuz Zubair sujud, burung-burung hinggap di atas punggungnya. Mereka mengira bahwa punggungnya tidak lain adalah dinding."

Apabila Anda menyaksikan Ibnuz Zubair dalam keadaan shalat, ia terlihat laksana dahan pohon yang digoyang-goyang oleh angin, sementara katapel perang melemparkan batu di sana-sini, tetapi ia seakan tidak peduli."

§ Diriwayatkan bahwa Maimûn ibnu Mahrân berkata, "Aku tidak pernah melihat Muslim ibnu Yasâr menoleh di dalam shalat. Suatu kali, bagian tepi mesjid roboh sehingga membuat orang-orang pasar terkejut karena bunyinya, sementara ia di dalam mesjid tidak menoleh sedikit pun di dalam shalatnya."

§ Dalam riwayat lain, Maimûn ibnu Mahrân juga berkata, "Apabila Muslim ibnu Yasâr masuk ke dalam rumahnya, mereka semua diam, dan apabila ia berdiri melaksanakan shalat, barulah mereka berbicara dan tertawa."

Saudara-saudaraku, Barangkali kita dapat membagi orang yang membaca kisah-kisah di atas kepada dua kelompok:

1. Orang yang baru membacanya untuk pertama kali, sehingga sangat kagum dan bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mencapai tingkat kekhusyukan seperti itu.

2. Orang yang telah pernah membacanya, sehingga akan berkata di dalam hatinya, "Setiap kali aku membaca kisah itu, aku berusaha untuk khusyuk, dan itu bisa berjalan beberapa hari, namun kemudian aku kembali seperti semula."

Bagaimana pun keadaan Anda, Anda dituntut untuk menjawab pertanyaan penting berikut ini: "Apakah Anda pernah membayangkan kekhusyukan yang dicapai oleh para salafusshalih tersebut?"

Sosok yang ketika sujud membuat burung-burung hinggap di atas punggungnya, sementara ia tidak merasakan apa-apa, sesungguhnya ketika itu tidak sedang berada di dunia, tetapi tenggelam dalam kekhusyukan shalatnya. Padahal, ada sebagian orang yang terbangun dari tidurnya oleh suara burung-burung. Suara burung bukan hanya mengganggu shalatnya.

Begitu pula, orang yang dinding mesjid di sampingnya roboh ketika ia shalat, namun ia tidak menoleh sedikit pun untuk melihat apa yang sedang terjadi, sesungguhnya akal dan hatinya ketika itu sedang berada di luar bangunan mesjid itu, yaitu di sisi Tuhan-nya.

Ketika kami menyebutkan kisah-kisah orang yang khusyuk di dalam shalatnya, bukan berarti ingin membuat kita frustasi dan pesimis dikala kita membandingkannya dengan kondisi shalat-shalat kita di zaman sekarang. Kami menyebutkannya agar semua kita menyadari bahwa shalat bukan hanya sekedar sebuah ibadah yang diwajibkan oleh Allah terhadap kita, siapa yang melaksanakannya akan masuk Surga dan siapa yang meninggalkannya akan mendapatkan azab Allah. Bukan, wahai saudaraku. Hakikat shalat jauh lebih besar dari itu.

Pada suatu hari, kami pernah bercerita tentang kekhusyukan di dalam shalat. Kemudian ada seorang sahabat yang mengucapkan beberapa untaian kata yang tidak pernah saya lupakan, yaitu: "Apabila para da'i mampu untuk khusyuk di dalam shalatnya niscaya kondisi umat akan berubah dengan segera."

Shalat merupakan sebuah alam istimewa yang sangat menyenangkan. Barang siapa yang bisa menghidupkannya berarti telah berhasil mendapatkan hal yang paling membahagiakan di dunia ini, yaitu bermunajat kepada Allah.

Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita merubah cara pandang kita terhadap shalat dari sekedar gerakan-gerakan yang kita laksanakan menjadi ibadah yang menghidupkan hati, menyucikan badan, membersihkan pikiran, dan membuat hidup menjadi berkah.

Akan tetapi yang menjadi pertanyaan penting kita saat ini adalah: "Bagaimana cara mengkhusyukkan shalat kita dan masuk ke dalam alam istimewa yang menyenangkan ini?"

1. Anda harus meninggalkan semua bentuk maksiat (dosa) semaksimal mungkin, terutama maksiat syahwat, seperti melihat hal-hal yang diharamkan, onani, dan lain-lain. Kebanyakan keluhan para pemuda saat ini adalah bahwa mereka tidak bisa fokus di dalam shalat karena Syetan datang di awal shalat mereka, lalu mulai mengingatkan tentang gambar dan kisah-kisah seksual yang tersimpan di dalam otak mereka. Mereka berusaha menolaknya, tetapi gagal, sehingga ketika selesai shalat, mereka keluar dalam keadaan lebih resah daripada sebelum shalat. Solusi satu-satunya adalah tidak mengisi otak kita dengan hal-hal seperti itu. Apabila Anda telah memenuhi otak Anda dengan hal-hal seperti itu, maka Anda harus menghapusnya, dan kembali mengisinya dengan hal lain, yaitu dengan ayat-ayat Al-Quran.

2. Anda harus menganggap shalat sebagai sesuatu yang luar biasa. Dan Anda mesti menyadari bahwa tidak ada sarana mendekatkan diri kepada Allah yang lebih Dia cintai daripada shalat. Sementara Allah tidak akan menerima shalat seorang hamba kecuali dalam keadaan khusyuk, sebagaimana sabda Rasulullah. Inilah yang harus menjadi tujuan dan orientasi Anda ketika hendak melaksanakan shalat.

3. Berdoalah kepada Allah agar dianugerahi kekhusyukan di dalam shalat. Berdoalah agar Allah menerimanya walaupun dengan segala kekurangan yang ada. Ini termasuk kiat yang paling penting, sebab doa adalah senjata orang beriman, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah.

4. Pelajarilah tata-cara shalat Nabi, seperti cara rukuk, sujud, dan berdiri, lalu berusaha semaksimal mungkin untuk mempraktikkannya di dalam shalat Anda.

5. Bacalah perkataan para ulama tentang rahasia-rahasia shalat serta hikmah setiap rukun shalat, atau dengarkanlah perkataan para da'i dalam hal ini.

6. Usahakan semaksimal mungkin untuk melaksanakan shalat sunnah sebelum shalat fardhu, agar diri Anda betul-betul siap untuk melaksanakan shalat fardhu.

7. Berusahalah untuk selalu shalat berjamaah di mesjid dan berusahalah semaksimal mungkin untuk takbir pertama bersama imam di dalam mesjid, agar Allah melihat kesungguhan Anda dalam menjaga shalat, sehingga Anda dianugerahi kekhusyukan.

Terakhir, jangan pernah putus asa untuk mencoba dan mencoba. Percayalah bahwa kekhusyukan itu—Insyâallâh—bisa kita dapatkan.

Insyâallâh, suatu saat kami akan menceritakan kisah-kisah lain tentang kekhusyukan di dalam shalat.

[Sumber: www.islammemeo.cc]

Artikel Terkait