Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.
Kedua perkara di atas (kenikmatan Surga dan melihat wajah Allah) telah dijelaskan dalam nas Al-Quran dan Sunnah. Dengan demikian, keduanya merupakan perkara yang telah Allah tetapkan sebagai kenikmatan untuk penghuni Surga. Allah—Subhanahu wata`ala—telah menanamkan di dalam naluri manusia kecintaan terhadap kesenangan-kesenangan itu: makanan, minuman, pakaian, dan sebagainya. Allah menjadikan semua itu sebagai balasan bagi manusia di dalam Surga sebagai rumah kehormatan-Nya. Allah berfirman (yang artinya):
Menatap wajah Allah—Tabaraka wa Ta`ala, meskipun merupakan hal yang paling dicintai oleh penduduk Surga, namun Allah telah menetapkannya untuk waktu tertentu saja. Sebuah hadits yang panjang diriwayatkan dari Anas ibnu Malik
bahwa Jibril berkata kepada Nabi
, "Apakah yang dimaksud dengan hari tambahan?" Nabi
menjawab, "Allah membuat sebuah lembah yang luas di dalam Surga, dan Dia letakkan di dalamnya sekumpulan kesturi putih yang menggunung. Ketika datang hari Jum`at, Allah turun ke sana, lalu meletakkan di dalamnya mimbar-mimbar emas untuk para Nabi, dan kursi-kursi dari mutiara untuk para syuhada. Kemudian para bidadari turun dari kamar-kamar, lalu mereka memuji dan mengagungkan Allah." [HR. Ath-Thabrani dan Abu Ya'la]
Kalau kita mengkaji ajaran hidup Nabi
, kita akan menemukan bahwa ketenangan dan kesenangan batin beliau terdapat di dalam ibadah kepada Allah. Namun semua itu tidak menghalangi beliau untuk menikmati kelezatan duniawi. Sebuah hadits diriwayatkan dari Anas
bahwa Nabi
bersabda, "Aku diberikan rasa cinta kepada wanita dan wangi-wangian, serta dijadikan kesenangan hatiku di dalam shalat." [HR. Ahmad dan An-Nasa'i]
Meski demikian, tidak ada dikatakan bahwa Nabi
tidak menjaga diri dari syahwat demi memokuskan diri untuk kenikmatan batin beliau dalam beribadah kepada Allah. Ini terjadi di dunia yang merupakan tempat kita dibebani berbagai tugas Syariat. Tentu penduduk Surga lebih layak untuk tidak dikatakan seperti demikian, karena Surga adalah tempat pembalasan segala amal kebaikan.
Terakhir, kita ingatkan bahwa semestinya seorang muslim tidak perlu memikirkan hal-hal seperti ini. Lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk dirinya di dunia dan Akhirat. Setiap muslim hendaklah bertanya tentang sesuatu yang melahirkan motivasi untuk beramal.
Wallahu a`lam