Boleh Melakukan Puasa Nazar dan Qadhâ' di Bulan Syawwâl

2-4-2019 | IslamWeb

Pertanyaan:

Apakah bulan Syawwâl hanya boleh untuk puasa enam hari Ayyâmul Bîdh saja? Ataukah boleh jika saya melaksanakan puasa nazar atau puasa qadhâ' yang menjadi kewajiban saya langsung setelah Idul Fitri atau secara terpisah-pisah dalam bulan Syawwâl? Maksudnya, apakah bulan Syawwâl boleh digunakan untuk melaksanakan puasa nazar dan qadhâ', ataukah hanya boleh untuk puasa sunnah enam hari saja? Apakah puasa-puasa qadhâ' dan nazar yang saya laksanakan pada bulan tersebut sah?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Pertama, puasa enam hari di bulan Syawwâl tidak disebut puasa Ayyâmul Bîdh.

Kemudian tentang pertanyaan Anda apakah bulan Syawwâl hanya khusus untuk puasa enam hari saja, dan apakah sah puasa selain enam hari tersebut, seperti puasa qadhâ' atau nazar, kami mengatakan: bulan Syawwâl dalam hal ini sama dengan bulan-bulan lainnya selain bulan Ramadhân, sehingga boleh melakukan puasa nazar atau qadhâ' puasa Ramadhân di dalamnya. Adanya tambahan keutamaan puasa enam hari di dalamnya di bandingkan bulan-bulan yang lain adalah karena Nabi—Shallallâhu `alaihi wasallam—bersabda, "Barang siapa berpuasa Ramadhân lalu mengiringinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwâl maka seakan-akan ia telah berpuasa sepanjang masa." [HR. Muslim]

Atas dasar ini, maka puasa qadhâ' dan nazar Anda pada bulan Syawwâl hukumnya sah.

Adapun berurutan (tidak terputus) dalam melaksanakan hari-hari puasa, tidaklah wajib dalam qadhâ' puasa Ramadhân, berdasarkan firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): "Maka barang siapa di antara kalian menderita sakit atau sedang berada dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah ia berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain." [QS. Al-Baqarah: 184]. Tetapi yang wajib adalah meng-qadhâ'-nya sebelum masuk bulan Ramadhân berikutnya.

Adapun puasa nazar, jika seseorang menazarkan puasa beberapa hari secara berurutan maka ia wajib melaksanakannya secara berurutan, tapi jika ia tidak menazarkan berurutan maka ia juga tidak wajib melakukannya demikian.

Wallâhu a`lam.

www.islamweb.net