Mengalami Haid di Malam Hari dan Berhenti di Siang Hari, Bagaimana Hukum Puasanya?

2-4-2019 | IslamWeb

Pertanyaan:

Saya mengalami haid di bulan Ramadhân, tetapi darah haid tidak keluar ketika berpuasa (pada siang hari), tetapi hanya keluar setelah shalat Isya, kemudian berhenti sebelum Subuh. Demikianlah seterusnya setiap hari. Artinya, pada waktu berpuasa, darah haid saya tidak keluar, dan baru keluar setelah shalat Isya, kira-kira jam sembilan. Pertanyaannya, sahkah puasa saya dengan keadaan seperti ini? Ataukah saya harus meng-qadhâ'?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.

Pendapat yang kuat menurut banyak ulama menyatakan bahwa masa suci yang menyelingi waktu-waktu haid adalah masa suci yang sah, sehingga apabila seorang perempuan melihat dirinya suci dalam bentuk seperti itu, ia diharuskan mandi, kemudian shalat dan berpuasa.

Dijelaskan dalam kitab Mathâlibu Ulin Nuhâ: "Bentuk minimal sucinya seorang wanita pada masa haid adalah ketika tempat keluar darahnya bersih total dari darah haid, sehingga jika kapas ditempelkan ke tempat itu, warnanya tidak berubah, baik waktu itu lama maupun singkat. Dan tidak dimakruhkan menjimaknya pada waktu terputus darah haid di tengah masa haid itu, jika ia telah mandi terlebih dahulu. Karena Allah—Subhânahu wata`âlâ—menyebut haid sebagai adzâ (penyakit), sehingga jika darah haid berhenti, kemudian ia mandi, hilanglah adzâ (penyakit) tersebut."

Atas dasar ini, jika Anda melihat bahwa Anda suci dari darah haid, dengan memastikan tidak ada sama sekali bekas darah ditempat keluar darah haid Anda, lalu Anda mandi dan shalat, maka shalat Anda sah, dan jika Anda berpuasa pun puasa Anda sah, selama tidak ada darah haid yang keluar (saat berpuasa). Jika Anda melihat ada darah yang keluar saat berpuasa, meskipun sesaat sebelum matahari terbenam, maka Anda harus meng-qadhâ' puasa hari itu.

Wallâhu a`lam.

www.islamweb.net